Kecanduan Belanja Bukan Hanya Gaya Hidup yang Tinggi, Tetapi juga Masalah Kejiwaan

jurus mudah mengurangi kecanduan belanja

Pernahkah anda mendengar atau mengetahui ada orang di sekitar anda yang kecanduan belanja? Ini ternyata bukan sekedar gaya hidup yang terlalu tinggi, namun merupakan suatu gangguan kejiwaan yang disebut compulsive buying disorder, dari asal katanya Compulsive atau perilaku kompulsif yang mengacu pada pengulangan perilaku dan dilakukan secara terus menrus. Meskipun seseorang mengetahui konsekuensi buruknya, perilaku kompulsif ini didorong oleh pikiran obsesif tertentu. Sedangkan compulsive buying disorder dicirikan dengan seseorang yang berlebihan dalam berbelanja atau memiliki kontrol impuls buruk dengan belanja dan hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang merugikan, misalnya dapat menimbulkan pertengkaran atau keretakan dalam rumah tangga jika seseorang tersebut sudah menikah akibat masalah keuangan yang mungkin akan dialami.

Mereka yang mengalami compulsive buying atau kecanduan belanja merasakan kebahagiaan saat berbelanja. Namun ketika sudah tidak berbelanja, rasa senang tersebut menghilang dan ia kembali murung, depresi atau bahkan marah. Compulsive buying atau kecanduan belanja lebih banyak dialami oleh kaum wanita, dikarenakan seorang wanita sejak kecil sudah terbiasa berbelanja bersama ibu atau saudara perempuannya, sehingga perilaku tersebut bisa saja berkembang ke arah yang buruk jika dilakukan secara berlebihan. Meskipun begitu, pria juga dapat mengalami gangguan ini, kecanduan atau gangguan belanja dapat dikenali dengan beberapa gejala yang tampak.

Gejala Compulsive Buying Disorder

  • Pembelian Secara Impulsif

Penderita gangguan ini biasanya membeli barang dengan dorongan hati yang kuat ketika membelinya dan mereka lebih sering menyembunyikan kebiasaan belanjanya dari orang lain, hal ini juga dapat dilihat dari barang-barang di rumahnya yang banyak dan belum dibuka sejak pertama kali membeli hingga belum pernah digunakan sama sekali, namun ia terus-terusan membeli barang hingga akhirnya barang-barang tersebut tidak terhitung jumlahnya.

  • Memiliki Gairah Belanja yang Tinggi

Mereka memiliki gairah yang tinggi ketika akan membeli sesuatu, rasa bahagia sangat menguasai hatinya dan rasa bahagia ini bukan karena memiliki sesuatu yang diinginkannya atau yang butuhkannya, tetapi rasa bahagia ini timbul dari kegiatan berbelanjanya. Kebahagiaan itu timbul ketika ia melihat sesuatu barang dan ketika ia mempertimbangkan untuk membelinya, dan hal ini jika terjadi terus-menerus maka akan menjadi adiktif.

  • Belanja untuk Meredam Emosi

Kecanduan belanja atau belanja kompulsif untuk mengisi kekosongan emosi dalam dirinya, contoh seperti rasa kesepian dan kurangnya kontrol diri ketika dirinya merasa kurang berharga hingga frustasi.

  • Rasa Bersalah dan Penyesalan

Gejala ini ditandai dengan perasaan bersalah atau menyesal terhadap barang yang sudah dibelinya, sehingga ada dorongan negatif yang membuat ia terus membeli barang lainnya. Selain itu terdapat ciri lain, diantaranya:

  1. Merasa harus membelanjakan sisa uang.
  2. Membeli barang yang tidak mampu dibeli.
  3. Kehabisan uang karena membeli barang-barang yang kurang diperlukan.
  4. Merasa sangat senang setelah berbelanja.
  5. Merasa sangat cemas ketika tidak berbelanja.

Baca juga : Penyakit dan Pencegahan di Lidah yang Berbulu

Lalu apa penyebab seseorang mengalami gangguan ini? Menurut Ruth Engs dari Indiana University, beberapa orang mengalami gangguan ini karena mereka akan sangat merasa senang dan bahagia ketika berbelanja. Ketika berbelanja, otak kita akan melepaskan endorphine dan dopamine. Endorphine dan dopamine dapat menimbulkan perasaan bahagia. Dengan berjalannya waktu, jika dilakukan terus menerus maka ini bisa menjadi satu hal yang adiktif.

Untuk pengobatan, tidak ada perawatan khusus yang terbukti dapat mengurangi atau menghilangkan gangguan ini. Namun penggunaan obat seperti anti depresan serta terapi kognitif perilaku dapat dilakukan, pengobatan atau terapi lainnya juga dapat dicoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *